Hallo Broeder inside

inMagz.id

Inside Magz menyadari bahwa sebuah karya tulis akan lebih indah dipandang mata bila tersaji dalam kemasan desain yang segar. Tampilan yang ‘enak’ serta nyaman di mata, akan mengantar dan mewarnai pandangan pembaca mulai dari awal hingga akhir setiap paragraf.

Berlangganan via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 285 pelanggan lain

25/09/2021

Inside Magz

Nyaman di Mata – Asik Dibaca

Putu

Putu dan Burasa Kuliner Tradisional yang Ikut Wara-Wiri di Pasar Online

Penulis: Eva Syilva

SAAT ini media sosial ikut menjelma menjadi pasar online yang buka selama 24 jam tanpa  mengenal hari libur. Salah satu barang yang paling ramai ditawarkan di pasar daring ini ialah produk makanan. Tak ketinggalan kuliner tradisional yang dapat dijumpai di wilayah Sulawesi Tengah, seperti Putu dan burasa.

Biasanya para penjual putu dan burasa menjajakan dagangannya di media sosial dengan cara membuka pemesanan untuk pengantaran di pagi hari. Sebab, dua makanan ini kerap digunakan sebagai pengganti menu sarapan.

Perkenalan dengan putu dan burasa dimulai saat saya duduk di bangku SD. Waktu itu, dua jajanan ini adalah primadona yang paling dicari ketika tiba di sekolah. Hampir dapat dipastikan, si putu bantal bertabur kelapa dan burasa berselimut daun pisang akan ludes sebelum jam sepuluh pagi.

Putu yang umum dikenal di Sulawesi Tengah sedikit berbeda dengan putu di daerah lain atau putu yang dimaksud dalam KBBI V, yang berarti ‘penganan dibuat dari tepung beras ketan, di tengahnya diberi gula merah, dimakan dengan kelapa parut’. Di provinsi yang sebagian besar dihuni oleh suku Kaili ini, putu terbuat dari beras ketan yang masih utuh. Tanpa diolah menjadi tepung beras ketan terlebih dahulu dan tanpa tambahan gula merah. Meski sama-sama ditambahi kelapa parut.

Yuk, intip cara membuat putu

Seperti halnya kulinar tradisional lain, cara membuat putu sangatlah praktis. Pertama, beras ketan direndam dalam air selama kurang lebih satu jam, lalu dicuci sampai bersih. Bisa menggunakan ketan putih maupun ketan hitam. Setelah itu, langsung ke tahap memasak dengan cara dikukus.

Selama proses pengukusan, beras ketan harus sering diaduk agar matang merata. Bila ingin lebih cepat matang, biasanya si pembuat menambahkan satu baskom kecil campuran air, minyak kelapa, dan sedikit garam. Jika air mempercepat proses pematangan, penambahan garam bertujuan untuk memberikan cita rasa gurih sedangkan minyak kelapa ditambahkan untuk memberikan efek glowing agar putu terlihat cantik dan menggoda.

Ketika sudah matang, putu dicetak menggunakan alat pencetak atau bisa pula dengan cara manual. Jika memakai cara manual, pembuat putu menggunakan daun pisang untuk mengurangi rasa panas pada tangan saat menggulung putu dan menambahan sedikit minyak kelapa agar putu tidak lengket. Setelah tercetak berbentuk bantal, langkah terakhir ialah menghujani putu dengan taburan parutan kelapa mengkal. Sampai pada tahap ini putu telah siap dinikmati.

Nah! Ini Cara Membuat Burasa

Jika putu dibuat dari beras ketan, lain halnya dengan burasa yang berbahan dasar beras. Pembuatan burasa sedikit lebih rempong karena harus dimasak sebanyak dua kali.

Tahap pertama yaitu memasak beras dengan campuran santan dan tambahan sedikit garam hingga menjadi setengah matang. Selanjutnya, beras setengah matang tadi dibungkus menggunakan daun pisang yang masih muda lalu dipipihkan hingga berbentuk persegi panjang dengan ketebalan sekitar satu sentimeter. Langkah berikutnya ialah menyatukan empat sampai lima bungkus burasa tadi, kemudian dibungkus lagi menggunakan daun pisang yang lebih lebar dan lebih tua lalu diikat menggunakan tali. Terakhir adalah tahap memasak yang kedua kalinya dengan cara direbus selama dua hingga tiga jam. Setelah matang, burasa siap untuk disantap.

Oh, iya. Putu dan burasa memiliki pasangan loh. Ciee, yang jomlo jangan baper ya. Kedua hidangan ini kurang pas jika dimakan sendiri tanpa ditemani pasangannya. Ayo ngaku, kamu penasaran kan tentang pasangan si putu dan burasa ini? 

Putu dan burasa baru terasa afdol jika disantap bersama ikan teri goreng yang oleh masyarakat suku Kaili disebut du’o sole atau bisa pula diduetkan dengan sambal ikan yang dihaluskan. Khusus burasa, dimakan dengan kari ayam juga terasa sangat pas bin lezat.

Entah mengapa putu dan burasa ditambah pasangannya terasa sangat nikmat jika disantap pada waktu pagi hari. Lebih pagi, lebih mantap. Terlebih jika ditemani segelas teh hangat.

Ingin mencicipi putu dan burasa? Ayo, ke Sulawesi Tengah!