Hallo Broeder inside

inMagz.id

Inside Magz menyadari bahwa sebuah karya tulis akan lebih indah dipandang mata bila tersaji dalam kemasan desain yang segar. Tampilan yang ‘enak’ serta nyaman di mata, akan mengantar dan mewarnai pandangan pembaca mulai dari awal hingga akhir setiap paragraf.

Mei 2021
SSRKJSM
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31 

Berlangganan via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 284 pelanggan lain

06/18/2021

Inside Magz

Nyaman di Mata – Asik Dibaca

Ikut Lestarikan Tumbilotohe, Cara Saya Mengobati Rindu Pada Gorontalo

Tumbilotohe

Ikut Lestarikan Tumbilotohe, Cara Saya Mengobati Rindu Pada Gorontalo

Sebagai orang yang pernah menetap selama lima tahun di Kota Gorontalo, hari-hari terakhir di bulan Ramadan seperti ini membuat saya rindu pada tradisi tumbilotohe.

Meski kini saya telah kembali ke kampung halaman di Desa Pelawa, Parigi Moutong, setiap tahunnya saya turut menghidupkan tradisi tumbilotohe di rumah. Bagi saya, ini merupakan bentuk penghargaan sekaligus menjadi pengobat rindu pada Hulondalo dan seisinya yang pernah menjadi rumah ketika saya menempuh pendidikan.

Tumbilotohe yang juga dikenal dengan sebutan malam pasang lampu merupakan tradisi orang Gorontalo yang dilakukan menjelang Idufitri. Biasanya pada tiga malam terakhir bulan Ramadan. Tumbilotohe berasal dari dua kata, yakni tumbilo yang berarti memasang/pasanglah, dan tohe yang berarti lampu.

Baca juga karya Eva Syilva: Agrowisata Buah di Desa Beringin Jaya

Pada malam tumbilotohe, masyarakat Gorontalo akan menyalakan lampu baik lampu tradisional maupun lampu listrik aneka warna, yang dipasang di depan rumah, dan di tempat-tempat tertentu yang menjadi pusat perayaan tumbilotohe.

Tradisi ini diperkirakan telah berlangsung sejak abad  ke-15. Awalnya, tumbilotohe menggunakan lampu berupa wango-wango, yaitu alat penerangan yang terbuat dari wamuta atau seludang yang dihaluskan dan diruncingkan, kemudian dibakar. Selanjutnya, alat penerangan mulai berganti menggunakan bahan berupa getah damar.

Pada tahun-tahun berikutnya, tumbilotohe dirayakan dengan lampu yang menggunakan sumbu dari kapas dan minyak kelapa, menggunakan wadah seperti kima (sejenis kerang), dan pepaya yang dipotong dua, yang disebut padamala. Kemudian berganti lagi dengan menggunakan lampu botol dengan minyak tanah seperti yang terus dipakai hingga saat ini.

Baca juga: Putu dan Burasa Kuliner Tradisional yang Ikut Wara-Wiri di Pasar Online

Selain lampu tradisional, beberapa tahun terakhir tumbilotohe juga disemarakkan oleh lampu listrik aneka bentuk dan warna yang dirangkai sedemikian indah. Saya membayangkan, bisa jadi di tahun-tahun berikutnya tumbilotohe akan semakin meriah dengan adanya drone light show, seperti yang digunakan pada acara Countdown Asian Games 2018.

Hal lain yang tak bisa lepas dari perayaan tumbilotohe selain lampu, ialah alikusu. Alikusu tumbilotohe merupakan rangkaian berbentuk pintu gerbang yang dihiasi janur, yang biasanya terbuat dari kayu atau bambu.  Alikusu tumbilotohe dipasang di depan rumah dan di tempat-tempat tertentu seperti di lokasi puncak perayaan tumbilotohe. Nah, di alikusu inilah lampu-lampu yang indah itu dirangkai membentuk kubah masjid, ucapan selamat Idulfitri, dan aneka kreasi lainnya.

Kemeriahan tradisi tumbilotohe menjadikan setiap insan baik mereka yang tengah berada di Gorontalo, orang Gorontalo yang tengah di tanah rantau, maupun anak rantau yang pernah singgah tapi tak sungguh di Gorontalo seperti saya merasa senang sekaligus rindu pada Gorontalo dan seisinya setiap akhir Ramadan tiba.

Akhir kata saya ucapkan, selamat merayakan tumbilotohe, dan selamat Idulfitri.