Hallo Broeder inside

inMagz.id

Inside Magz menyadari bahwa sebuah karya tulis akan lebih indah dipandang mata bila tersaji dalam kemasan desain yang segar. Tampilan yang ‘enak’ serta nyaman di mata, akan mengantar dan mewarnai pandangan pembaca mulai dari awal hingga akhir setiap paragraf.

April 2021
SSRKJSM
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930 

Berlangganan via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 284 pelanggan lain

06/22/2021

Inside Magz

Nyaman di Mata – Asik Dibaca

BERKUNJUNG ke kebun buah dapat menjadi pilihan untuk mengisi waktu luang di akhir pekan. Selain bisa mencicipi buah segar dengan harga yang lebih terjangkau, kita juga berkesempatan untuk memilih dan memetik sendiri buah yang akan dimakan. Seru kan?

Kesempatan seru seperti itu kerap dijumpai di kawasan agrowisata. Selain dapat menghirup udara segar, warna hijau khas perkebunan juga dipercaya mampu memberi pengaruh pada mood dan pikiran sehingga menjadi lebih rileks.

Baca juga: Melihat Jejak Purbakala di Lembah Napu

Di kabupaten Parigi Moutong juga terdapat perkebunan buah yang dapat dijadikan pilihan untuk beragrowisata. Di antaranya kebun jambu kristal dan buah naga milik Pak Dalimin, di Desa Beringin Jaya.

Meski tidak dikelola sebagai objek wisata, kebun seluas dua hektar yang terletak di Kecamatan Bolano itu dapat dikunjungi untuk merasakan sensasi memetik buah langsung dari pohonnya. Sekaligus belajar banyak hal tentang budi daya buah.

Baca juga: Putu dan Burasa Kuliner Tradisional yang Ikut Wara-Wiri di Pasar Online

Dulunya kebun Pak Dalimin merupakan persawahan. Sekitar empat tahun lalu, lelaki yang tiba di Parigi Moutong pada tahun 1996, lewat program transmigrasi itu, memutuskan untuk mengganti tanaman padi dengan buah-buahan. Pak Dalimin mendatangkan bibit buah dari Pulau Jawa lalu menyulap sawahnya menjadi kebun buah.

Kepiawaian Pak Dalimin dalam memanfaatkan waktu dan lahan patut diacungi jempol. Menerapkan pola tanam tumpang sari, suami dari Ibu Purwanti itu juga mengisi kebunnya dengan tanaman lain seperti durian montong, jeruk, dan semangka.

Untuk merawat dan memanen tanamannya, Pak Dalimin dibantu enam orang pekerja. Panen raya buah naga dilakukan sebulan sekali dan ada pula panen selingan setiap dua minggu. Ketika panen raya, Pak Dalimin dapat memperoleh hingga 6 kuintal buah naga. Sedangkan pada musim kemarau, hasil panen merosot menjadi satu kuintal dalam seminggu.

Baca juga: Cicipi Dange Palumara, Kuliner Khas yang Melegenda

Jika buah naga dipanen dua minggu sekali, panen jambu kristal dilakukan setiap hari. Dalam sehari, pesanan jambu kristal bisa mencapai 250 kilogram. Wow!

Untuk pemasaran, Pak Dalimin menerima pesanan dari para pembeli untuk dijual kembali  di pasar tradisional maupun pasar modern. Biasanya pesanan datang dari Kota  Parigi, Kabupaten Toli-toli, Provinsi Gorontalo, serta Manado.

Selain mengirimkan pesanan dalam skala besar, Pak Dalimin juga menerima pembeli yang datang langsung ke kebun dan ingin merasakan sensasi memetik buah naga dan jambu kristal.

Sebelum dikirim, buah-buahan dari kebun Pak Dalimin harus melewati tahap sortir. Terutama untuk pengiriman ke pasar modern yang mempersyaratkan ukuran, berat minimal, dan tampilan produk.

Untuk jambu kristal, setelah tahap pemetikan, jambu dicuci hingga bersih dari hama kutu kebul dan kotoran yang biasanya menempel pada buah jambu. Selanjutnya ialah tahap pemilihan buah. Buah dengan ukuran yang terlalu kecil dan tampilan kurang menarik tidak akan lolos dalam tahap ini sebab bentuk visual menjadi nilai tambah tersendiri untuk menggait pembeli.

Di pasaran, jambu kristal dijual seharga 15 sampai 20 ribu rupiah per kilogram. Ketika ditanya mengenai omzet kebun buah ini, malu-malu Pak Dalimin menjawab.

“Yah, bisa puluhan, dalam seminggu,”

Wow! Puluhan juta dalam seminggu dari bertani buah. Panjang umur, petani Indonesia.

***

Baca juga: Empat Pantai Cantik di Tepi Jalan Trans Sulawesi Parigi Moutong