Hallo Broeder inside

inMagz.id

Inside Magz menyadari bahwa sebuah karya tulis akan lebih indah dipandang mata bila tersaji dalam kemasan desain yang segar. Tampilan yang ‘enak’ serta nyaman di mata, akan mengantar dan mewarnai pandangan pembaca mulai dari awal hingga akhir setiap paragraf.

Berlangganan via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 285 pelanggan lain

24/09/2021

Inside Magz

Nyaman di Mata – Asik Dibaca

alt=© Ulet Ifansasti Greenpeace Label sertifikasi

Sebuah tunggul pohon dari hutan lahan gambut yang baru dibuka. (© Ulet Ifansasti / Greenpeace)

Label sertifikasi? Tidak Seperti yang Kamu Pikir

Apa yang sedang terjadi?

KAMU peduli terhadap lingkungan. Kamu lebih memperhatikan apa yang kamu beli di toko, jadi kamu pilih sebuah produk yang ada label ramah lingkungan dibanding yang tak ada labelnya. NAMUN, di beberapa kasus label-label ini tidak berpengaruh karena kemungkinan produk-produk ini masih terhubung dengan kasus deforestasi dan pelanggaran hak asasi manusia.

Dalam laporan terbaru Greenpeace International, Destruction: Certified, kami melihat label-label sertifikasi ramah lingkungan di produk cokelat, kopi, biofuel, kelapa sawit, kedelai dan kayu. Label yang mungkin familiar bagimu seperti FSC, PEFC, Rainforest Alliance Certified, NSF Sustainability Certified, Green Tick dan lainnya. Kami membandingkan ‘sertifikasi-sertifikasi’ ini terhadap realita bagaimana perusahaan yang menggunakan label ini sesungguhnya masih bermasalah terhadap deforestasi, degradasi hutan, konversi ekosistem dan pelanggaran HAM, seperti pelanggaran hak masyarakat adat dan hak buruh.

Hasilnya: banyak dari skema sertifikasi ini masih memperbolehkan kegiatan bisnis destruktif untuk berlanjut seperti biasa. 

Kenapa ini penting?

Meskipun sertifikasi ramah lingkungan telah menjadi hal yang sangat populer secara global selama beberapa dekade terakhir, deforestasi dan pengrusakan ekosistem masih berlanjut.

Dari Amazon ke Cekungan Kongo hingga ke Indonesia, di Eropa dan Amerika Utara, perusahaan-perusahaan menghancurkan hutan dengan mengeksploitasi lahan dan sumber dayanya. 80% deforestasi global merupakan hasil dari produksi perkebunan. Daging, produk susu, kedelai untuk pakan ternak, kelapa sawit, bubuk kayu dan kertas, dan biji kakao meningkatkan permintaan untuk lebih banyak lahan perkebunan. Secara langsung atau tidak langsung, banyak rumah tangga mengkonsumsi produk-produk ini. Kamu ingin memastikan bahwa produk ‘bersertifikasi’ yang kamu beli berasal dari proses berkelanjutan.

Dengan mensertifikasi produk mereka sebagai ‘ramah lingkungan’ atau ‘berkelanjutan’, perusahaan mendorong permintaan dan sekaligus meningkatkan kerugian lingkungan yang dihasilkan dari produksi ekstraktif. Maka, di saat kita berpikir kita membuat keputusan yang tepat, sesungguhnya kita bisa saja membeli produk yang berhubungan dengan pelanggaran dan perusakan.

Melalui penggunaan label yang menyesatkan, perusahaan melepaskan tanggung jawab mereka dan menyerahkannya kepada kita. Melindungi hutan dan hak asasi manusia seharusnya bukan pilihan, dan seharusnya tidak dibebankan kepada konsumen, untuk memperhatikan label-label itu dan memastikan kita tidak terjebak dalam greenwashing.

Bagaimana kita sampai di titik ini?

Di awal tahun 90-an, mengikuti gelombang kesadaran lingkungan di kehidupan berkonsumsi, banyak perusahaan dan pemerintahan membuat komitmen untuk melawan deforestasi. Mereka melihat sertifikasi adalah jawabannya.

Apa itu ‘sertifikasi’ dan sertifikasi hutan?

Sertifikasi adalah proses verifikasi dimana pemilik perkebunan, perikanan atau konsesi hutan dapat menunjukkan bahwa mereka patuh dengan standar sosial atau lingkungan, dan berhak untuk menjual produk mereka sebagai produk bersertifikat.

Produk bersertifikasi seringkali menyertakan ekolabel yang berhubungan dengan konsumen. Perusahaan yang memproduksi atau memperdagangkan “komoditas yang membahayakan hutan dan ekosistem” sering bergantung pada sertifikasi untuk meyakinkan konsumennya. Mereka ingin memperlihatkan bahwa mereka dan pemasoknya telah melakukan sesuatu untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan dan sosial terkait dengan produksi, sehingga produk mereka dapat dianggap sebagai ‘berkelanjutan’

Jadi apakah kita harus berhenti membeli produk bersertifikat?

Tidak. Beberapa skema sertifikasi punya dampak positif secara lokal. Kadang label seperti Forest Stewardship Council (FSC) dapat membantu pilihan pola konsumsi. Sama seperti makanan organik (yang di luar cakupan laporan ini dan merupakan contoh label yang diatur dan lebih terpercaya). Namun, apapun skema sertifikasinya, memeriksa setiap label, janji-janjinya, dan apakah itu dapat dipercaya atau tidak membutuhkan banyak penelitian. Hal ini sulit dilakukan saat kita sedang ingin membeli sesuatu dari rak toko.

Sebaliknya, kita harus dorong pemerintah kita untuk mengubah kebijakan mereka untuk melindungi masyarakat dan planet ini.

Apa yang bisa kamu lakukan.

Bersama, kita bisa mendorong pemerintah dan pemilik bisnis untuk dengan serius menangani masalah deforestasi dan pelanggaran hak asasi manusia.

Pemerintah di negara produsen harus berani membuat regulasi untuk perusahaan dan mengeluarkan undang-undang yang lebih kuat untuk melindungi habitat alam. Pemerintah di negara konsumen perlu menyiapkan sistem pelacakan transparan dan mengadopsi undang-undang yang mencegah penjualan produk yang terkait dengan perusakan dan pelanggaran HAM. Semua pemerintahan harus berhenti mengandalkan perusahaan untuk memperbaiki masalah ini secara sukarela.

Perusahaan harus memperbaiki usahanya dengan standar lingkungan dan sosial yang lebih kuat untuk memastikan rantai pasokan mereka tidak berkontribusi pada perusakan hutan.

Hukum yang lebih kuat dan upaya yang lebih besar untuk mengurangi konsumsi produk tertentu sangat penting jika kita ingin mengatasi krisis iklim, keanekaragaman hayati dan ketimpangan, serta menciptakan masyarakat yang lebih sehat.

Grant Rosoman adalah jurukampanye hutan Greenpeace International

Lihat Sumber: