Hallo Broeder inside

inMagz.id

Inside Magz menyadari bahwa sebuah karya tulis akan lebih indah dipandang mata bila tersaji dalam kemasan desain yang segar. Tampilan yang ‘enak’ serta nyaman di mata, akan mengantar dan mewarnai pandangan pembaca mulai dari awal hingga akhir setiap paragraf.

Berlangganan via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 284 pelanggan lain

05/08/2021

Inside Magz

Nyaman di Mata – Asik Dibaca

alt=gabah menumpuk di parigi moutong

Tumpukan gabah di Kabupaten Parigi Moutong. (taken by Moh Aksa/inMagz)

Harga Anjlok, Gabah Menumpuk di Parimo, Pemerintah RI Rencanakan Impor Beras

Sangat diharapkan ada jaminan yang diberikan kepada petani bahwa beras petani bisa dipasarkan

Ramadhan, UPTD Penyuluhan Parigi Selatan

SULAWESI TENGAH – Gabah sedang menumpuk di Kabupaten Parigi Moutong. Sementara Pemerintah Republik Indonesia berencana untuk mengimpor satu juta ton beras ke Indonesia. Rincana pemerintah RI yang dinilai tanpa berdasarkan survei, itu dianggap mempengaruhi petani di Provinsi Sulawesi Tengah.

Dikabarkan dari Parigi Moutong, sejumlah gilingan padi di daerah tersebut tidak melakukan penggilingan gabah. Para petani belum mau menggiling gabahnya akibat harga beras di pasar anjlok.

“Setiap hari sebanyak 10 ton gabah masuk ke tempat penggilingan, mengakibatkan penumpukan di seluruh gilingan ada di wilayah Kecamatan Parigi Selatan,” ungkap Kepala UPTD Penyuluhan Parigi Selatan, Ramadhan yang dihubungi pada Selasa, 9 Maret 2021. “Para petani tidak melakukan penjualan beras, karena mengalami penurunan harga yang tidak sesuai dengan ongkos,” sambung Ramadhan.

Belum diketahui pasti apakah wacana pemerintah untuk mengimpor beras ke Indonesia yang jadi penyebab atau tidak, belum jelas, yang pasti sekarang ini harga murah, bahkan pembeli dalam jumlah banyak tidak ada.

Selain mungkin lantaran wacana impor, Ramadhan juga merabah bahwa bisa jadi juga semua ini akibat pandemi.

Kondisi tersebut terjadi sejak awal tahun 2021, yang masuk periode tanam Oktober hingga Maret, mengakibatkan sejumlah beras petani menumpuk dan tidak di pasarkan.

Kondisi tersebut, bakal menjadi ketakutan petani saat ini, ketika memproduksi beras yang tak bisa dipasarkan. Sehingga langkah yang diambil petani katanya, saat ada pembeli baru kemudian memproduksi gabah menjadi beras.

“Sekarang ini, gabah banyak hanya tersimpan di luar gudang penggilingan, karena tidak ada lagi tempat penampungan di dalam,” ungkapnya.

Ramadhan bilang, pihaknya telah berkoordinasi dengan kepala Dinas Pertanian Tanaman Holtikultura dan Perkebunan (DPTHP) Parigi Moutong terkait kondisi yang dialami para petani. Dan selanjutnya koordinasi juga akan diteruskan ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat.

Ramadhan berharap akan menemukan solusi untuk memberi jaminan kepada petani agar kedepannya tidak terjadi lagi kodisi seperti ini. “Sangat diharapkan ada jaminan yang diberikan kepada petani bahwa beras petani bisa dipasarkan,” harapnya.*

Moh Aksa