Hallo Broeder inside

inMagz.id

Inside Magz menyadari bahwa sebuah karya tulis akan lebih indah dipandang mata bila tersaji dalam kemasan desain yang segar. Tampilan yang ‘enak’ serta nyaman di mata, akan mengantar dan mewarnai pandangan pembaca mulai dari awal hingga akhir setiap paragraf.

Februari 2021
SSRKJSM
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Berlangganan via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 285 pelanggan lain

07/12/2021

Inside Magz

Nyaman di Mata – Asik Dibaca

alt=Pengamalan Pancasila Wajib Diterapkan Untuk Milenial Muda

Pengamalan Pancasila Wajib Diterapkan untuk Milenial Muda

DENPASAR – Maraknya pengaruh buruk yang terjadi di tengah masyarakat, khususnya yang menyerang kaum muda, mengakibatkan semakin menipisnya pemahaman nilai-nilai Pancasila.

Untuk itu, sosialisasi pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila harus terus dilakukan secara bersinergi.

Hal tersebut dilakukan melalui penguatan sumber daya manusia dengan menanamkan pemahaman bukan hanya melalui teori saja, namun harus langsung mempraktikkan di lapangan, dengan tujuan menumbuhkan rasa loyalitas, kesetiaan dan dedikasi menjadi hal yang harus dimiliki setiap generasi bahwa kepentingan negara di atas kepentingan pribadi.

Hal ini disampaikan Ny. Putri Suastini Koster saat didaulat sebagai narasumber acara dialog Perempuan Bali Bicara, dengan tema “Menanamkan Nilai-Nilai Pancasila Dalam Keluarga”, di Studio Bali TV, Senin (08/02).

Dalam keluarga anak-anak hendaknya diberikan tugas untuk dilaksanakan. Rumah merupakan sekolah pertama untuk menanamkan kedisiplinan dan penumbuhan karakter yang berkepribadian baik dan bertanggung jawab.

Pada pengamalan sila pertama, seorang anak dididik untuk mengokohkan pribadi melalui pembagian tugas pemahaman agama yang kita anut. Yang nantinya dapat diterapkan dilingkungan luas terutama pertemanan, sekolah dan dimanapun kita berada. Sehingga disini penanaman hubungan manusia dengan Tuhan sangat penting.

“Guru di sekolah memberikan teori, sedangkan rumah dan lingkungan menjadi tempat untuk melaksanakan praktik,” ujarnya.

Pada sila kedua, kata Putri Koster, yakni penanaman nilai kemanusiaan untuk saling hormat menghormati antara diri kita dengan orang lain.

Selanjutnya, pada sila Persatuan Indonesia, orangtua memiliki peran menanamkan kecerdasan kita untuk kejayaan bangsa, sehingga anak anak memiliki kecintaan terhadap bangsa dan tanah air.

Pada sila keempat, kita sudah diajarkan untuk melakukan hal-hal baik dan positif dalam kehidupan.

“Sejak lama kita ditanamkan lebih mendahulukan cara musyawarah untuk mufakat untuk mendapatkan hasil sebuah kesempatan yang bermanfaat bagi banyak pihak,” imbuh pendamping orang nomor satu di Bali ini.

Sedangkan pada sila kelima, orang tua menanamkan rasa adil dalam kehidupan. Orang Tua memiliki peran sebagai pendorong bagi kesuksesan anak anaknya, memiliki kewajiban untuk menanamkan rasa yang berkeadilan dan memiliki rasa sosial yang tinggi bagi lingkungannya.

Filternya harus jelas mana yang boleh ditiru dan mana yang tidak, karena kemajuan teknologi harus dikuasai dan dimanfaatkan dengan keahlian yang profesional dan jangan sampai kita dikuasai oleh kemajuan teknologi.

Sehingga tidak mampu menyaring informasi yang sesuai kaidah yang benar dan tidak percaya pada informasi yang bohong (hoax).

Jangan sampai teknologi informasi menjadi bumerang bagi keberlangsungan pertumbuhan karakter anak-anak kita.

Karakter yang harus ditanamkan di dalam keluarga bagi anak anaknya adalah pendidikan berbudi luhur, etika dan sopan santun.

“Mari kita bertingkah laku yang baik dalam masyarakat yang tidak menyebabkan orang lain menjadi sengsara dan sakit hati. Dengan berpikir, berbicara, dan berperilaku yang baik akan mampu memagari diri sendiri untuk mengendalikan hal hal negatif tidak terjadi,” tegas Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny Putri Koster.

Sementara Kepala Staf Korem 163 Wirasatya Kolonel infanteri I B Ketut Surya Widana menyebutkan penanaman dan penerapan nilai-nilai Pancasila dapat diterapkan melalui pola pandang hidup dalam membina rumah tangga menjadi sumber pendidikan utama dalam penanaman karakter dan pribadi.

Selain itu, penghayatan dan pengamalan Pancasila adalah prioritas dalam kehidupan. Di mana orangtua harus menjadi teladan dan contoh yang baik bagi anak-anaknya.

Sedangkan penanaman pengamalan nilai-nilai Pancasila tidak cukup hanya melalui teori saja namun harus nyata dengan dilakukannya praktek bersama di tengah lingkungan bermasyarakat.

Anak-anak diberikan tugas masing-masing sehingga tumbuh peran serta sebagai karakter individu yang matang sejak awal.

“Contohnya masing-masing anggota keluarga memiliki tugas di rumahnya, sehingga tumbuh rasa tanggung jawab terhadap sebuah kewajiban,” tegas Kepala Staf Korem 163 Wirasatya.

Program dari Korem 163 Wirasatya, kata Widana bagi anggotanya sudah terbentuk dan pembekalan bagi pelaksanaan dan penerapan nilai nilai Pancasila di kesatuan- kesatuan hingga Koramil dan Babinsa yang nantinya dapat disosialisasikan di tengah masyarakat.

Khusus untuk prajurit TNI sepanjang tahun terus diingatkan selalu bagaimana menerapkan dan mengamalkan Pancasila. Pembinaan dan penguasaan Pancasila akan serta merta memberi bekal bagi generasi muda khususnya anak anak kita, sekalipun mereka berada jauh dari orangtuanya.

BM/BPIP RI | www. bpip.go.id