Hallo Broeder inside

inMagz.id

Inside Magz menyadari bahwa sebuah karya tulis akan lebih indah dipandang mata bila tersaji dalam kemasan desain yang segar. Tampilan yang ‘enak’ serta nyaman di mata, akan mengantar dan mewarnai pandangan pembaca mulai dari awal hingga akhir setiap paragraf.

Februari 2021
SSRKJSM
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Berlangganan via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 284 pelanggan lain

05/15/2021

Inside Magz

Nyaman di Mata – Asik Dibaca

alt=Bumi Tanpa Plastik

Sampul Laporan Greenpeace tentang Bumi Tanpa Plastik. (Istimewah)

Publik Menagih Tanggung Jawab Produsen Plastik

PERTUMBUHAN produksi dan konsumsi plastik sekali pakai terus mengalami peningkatan signifikan. Pertumbuhan timbulan sampah plastik yang memiliki kemampuan daur ulang sangat rendah, pada akhirnya terakumulasi di lahan TPA, dibakar, ataupun terlepas ke lingkungan.

Setidaknya pada tahun 2020 diberitakan beberapa TPA terancam melebihi kapasitas tampungnya, kematian biota laut akibat terjerat plastik, hingga panen sampah plastik di beberapa pantai di Indonesia.

Baca laporan terbaru Greenpeace Indonesia mengenai Bumi Tanpa Plastik; Perspektif dan Tuntutan Publik Terhadap Tanggungjawab Korporasi Dalam Krisis Pencemaran Plastik di Indonesia. Artikel berjudul tersebut memperlihatkan fenomena yang terjadi di masyarakat dalam merespon permasalahan sampah plastik. Di mana sudut pandang permasalahan hilir sampah plastik dikaji berdasarkan upaya penanganan, hambatan, serta harapan masyarakat, sebagai konsumen produk tersebut.

Dalam laporan ini ditemukan bahwa saat ini publik sudah memiliki tingkat pemahaman yang cukup baik terhadap permasalahan sampah plastik di Indonesia. Akan tetapi, pemahaman tersebut belum teraktualisasikan sepenuhnya dalam kehidupan masyarakat. Hal ini disebabkan adanya beberapa faktor yang menghambat upaya pengurangan plastik oleh publik, seperti isu kenyamanan, keterjangkauan harga, serta keterbatasan pilihan alternatif pengganti plastik di pasar.

Sulitnya penanganan sampah plastik dinilai publik merupakan hasil kontribusi korporasi. Masifnya produksi barang kebutuhan sehari-hari dengan kemasan plastik sekali pakai menjadi dasar argumentasi tersebut.

Di samping itu, sebagian besar publik juga menilai saat ini perusahaan belum menunjukkan upaya yang cukup untuk mengurangi dan menangani sampah plastik yang dihasilkan. Mereka merasa belum cukup puas atas inisiatif pengelolaan sampah yang telah dilakukan perusahaan selama ini.

Oleh karenanya, publik berharap perusahaan dapat lebih proaktif dalam menangani permasalahan yang terjadi. Sehingga, dari laporan ini menunjukkan bahwa masyarakat mempunyai tuntutan kepada perusahaan untuk mengambil peran dan tanggung jawabnya mengatasi permasalahan sampah plastik di bagian hulu.

Aktualisasi tuntutan tersebut penting dilakukan guna menyeimbangkan upaya penanganan sampah plastik yang sudah diupayakan masyarakat di bagian hilir.*

Sumber: Greenpeace